Rabu, 06 Mei 2009

Kurikulum 1994 VS KBK

KBK LANGKAH MUNDUR PEMBELAJARAN MATEMATIKA

PENDAHULUAN
Latar belakang
Pendidikan pada hakekatnya merupakan proses memanusiakan manusia melalui proses pengembangan seluruh potensi dan sesuai dengan tuntutan yang berkembangan dilingkungannya. “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara (UU RI No. 20 tahun 2003)”.
Upaya meningkatkan kualitas pendidikan secara terus menerus dilakukan baik secara konvensional maupun inovatif. Pemerintah telah melakukan upaya penyempurnaan pendidikan secara nasional antaralain dengan diimplementasikannya UU No,. 22 dan 25 tahun 1999 tentang otonomi daerah. Sejalan dengan itu, pemerintah juga melakukan pembaharuan pendidikan dalam bidang kurikulum yang diharapkan meningkatkan kualitas pembelajaran. Salah satu efeknya adalah diimplementasikannya kurikulum berbasis kompetensi (KBK) pada tahun 2004. Hal tersebut juga menjadi landasan dalam pengembangan pembelajaran matematika. Salah satu indikator keberhasilan inovasi pendidikan ini adalah ketercapaian ketuntasan belajar siswa.
Inovasi pendidikan ini tidak mudah untuk dapat diterima khususnya oleh pada praktisi pendidikan matematika. Hal ini terjadi karena terdapat perbedaan karakteristik pembelajaran matematika dengan KBK. Pembelajaran matematika di tingkat menengah, materi disampaikan secara abstrak. Ini terjadi karena karakteristik mata pelajaran matematika di tingkat menengah memang demikian. Sedangkan KBK memberikan indikator bahwa pembelajaran akan bermakna apabila materi pelajaran dihubungkan langsung dalam pemecahan masalah sehari-hari.
Kondisi ini menarik untuk dikaji lebih dalam. Dampak yang dihasilkan KBK dalam mata pelajaran matematika dapat saja lebih baik dibandingkan dampak yang dihasilkan kurikulum 1994.
Hasil penelitian yang dilakukan di SMA PGRI Rancaekek oleh mahasiswa pendidikan matematika FKIP Uninus menunjukkan perbedaan rata-rata prestasi siswa pada pembelajaran matematika. Rata-rata prestasi belajar siswa pada kurikulum 1994 lebih baik dari pada rata-rata prestasi belajar siswa pada kurikulum berbasis kompetensi. Hal ini menunjukkan kemunduran prestasi pendidikan matematika khususnya di SMA PGRI Rancaekek.
Perbedaan karakteristik antara KBK dengan matematika menunjukkan ketidak singkronan antara pembelajaran menurut KBK dengan karakteristik matematika. Karakteristik pembelajaran matematika biasanya diawali dengan tahapan pengenalan konsep secara konkrit, kemudian diabstraksi dan tidak mesti bahkan lebih baik tidak dikongkritkan lagi.sedangkan karakteristik pembelakaran menuru KBK harus selalu dikenalkan melalaui konsep konkrit. Kondisi ini mengakibatkan konsep matematika akan sulit berkembang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar