JEJAKMU DIKELAS BIRUDiantara kabut-kabut yang menyelimuti kota Bandung, dikala panas dan hujan, terpaan angin dan penatnya jalan Soekarno-Hatta. Kami tetap utuh.
September tahun 2002 awal kami berjumpa, memapak perjalanan hidup baru kami. Mencoba mengumpulkan serpihan harapan dan cita-cita, mencari arti dan makna hidup didunia. Penasaran dan raasa cemas terus mengalir dalam dada kami. Rasa ragu dan keterasingan memicu kegelisahan. Ketidak tahuan dan ketak berdayaan membuat rasa hampa langkah kami. Kegontaian, keraguan, kelemahan, rasa takut, bimbang, kegelisahan, ……. Menyeret kami mencari perlindungan. Di sinilah kami saling mengulurkan tangan.
Diantara gumpalan semangat, kami memapak harapan baru, Tersirat tanya dalam diri kami “inikah kampus yang akan kami cintai?”. Segumpal harapan dalam dada, segudang do’a ayah dan bunda, adik dan kakak kami, teman serta sanak famili kami, serta segudang harapan tanah kelahiran kami. KAMI INGIN MENJADI MANUSIA yang BERGUNA BAGI ALAM yang KAMI HUNI. Tapi perjalanan adalah tantangan, Hambatan dan rintangan menjadi bagian dari perjuangan ini. Tak mudah menemukan perlindungan diri. Menjaga dan menggapai harapan orang tua kami. Jalanan berliku, menanjak, berondak dan penuh duri selalu menyeret kami menjerumuskan langkah kami. Tapi inilah kami, sampai kini masih berdiri.
<--------------------- uscos--------------------- >
UNTUKMU SAHABATKU DI KELAS BIRU
Siti Hanisyah Suparman Lina Mulyati Jajang Hirdiyana
Rani Suminar Roswita Tita Rosdiana
Yanti Mulyanti Freni Setiawati Tatang Hadiansyah
Mrdiah Syofiana Nandang Arif Saefulloh
Riuh air gemercik mengalir menyusuri sungai, perlahan ia menggapai muara hingga sampai di samudera lautan lepas. Tapi entah dibagian mana air dari sini kan tinggal di samudera itu. Kemudian awan berduyun berarak-arak berlomba menghiasi angkasa. Tapi entah dibagian mana awan dari sini menghiasi langit itu. Lalu angin bertiup menghamburkan debu serta biji-biji tumbuhan, berkembanglah tumbuhan menghiasi seluruh bumi. Tapi entah kemana debu serta biji-bijian dari sini kan menghiasi alam ini. Layang-layang putus pasti kan kembali ke bumi, tapi dimana?????????
Lalu kita adalah objek yang terseok-seok mencari tentang hakekat diri dan hidup kita tidak pernah menyangka sebelumnya kini kita berdiri disini. Lalu dimanakah kita akan berada
DO’ABismillahirrahmanirrahiim
Teman-teman sebelum kita memanjatkan harapan kepada Allah Swt. Marilah kita sejenak mengingat perjalanan kita khususnya selama empat tahun kurang lebih, kita berkumpul bejuang bersama. Menyusun serpihan-serpihan harapan yang dipikul dari tanah kelahiran kita. Barangkali ada langkah yang lupa, tanpa disadari, tidak disengaja, atau bahkan sengaja kita lakukan sehingga Allah tidak ridha, atau bahkan membuat dia murka.
Teman-teman kita semua tahu, meskipun hari ini bukanlah yang terakhir untuk saling menyapa, bercerita, bergandeng tangan, atau mungkin saling berpelukan, tetapi sadar kesempatan itu terbatas. Tahun yang akan datang, bulan, minggu, bahkan mungkin esok hari kesempatan itu akan sirna. Rasa benci, gembira, kekecewaan, dll semua akan berganti dengan rasa rindu atau penyesalan kenapa kita tidak dapat memberikan yang terbaik untuk teman-teman pada saat kemarin.
Ingatlah. Teman yang kemarin rela berkorban bagi kita, mendengarkan keluhan kita, menemani saat kesepian, menjadi tempat curahan hati saat terhimpit beban. Masihkah ia sanggup mendengarkan ocehan kita lagi? Masihkan mereka mau mendengarkan keluhan kita lagi? Mereka rela mengulurkan tangan
Meraka ihklas membantu sampai kita mampu menyandang gelar sarjana.
Tapi. Senyum mereka, …………dan semua kasih sayang mereka akan pergi dari hadapan kita tanpa kita membalas semua keikhlasannya.
Oleh karena itu, sementara masih ada waktu untuk kita menyampaikan rasa terimakasih atau permohonan maaf. Minggu depan, esok hari, atau bahkan satu jam, satu detik yang akan datang kesempatan itu sirna.